“Hei, aku punya rahasia baru! Datanglah ke rumahku jam
sembilan pagi, dan kita akan berpetualang seharian!” Jake memberi pengumuman
kepada teman segenknya, The Gruffy Honk.
Jake
Eldridge Ackley, atau Jake Ackley adalah sang ketua. Bertubuh tinggi dan tegap.
Sorot matanya tajam dengan bola mata berwarna biru cerah, keturunan ayahnya. Ia
seorang remaja empat belas tahun yang sangat pemberani dan tangguh, dan salah
satu cowok popular di sekolahnya.
Zane Matrix adalah anggota The Gruffy Honk yang paling muda. Berambut pirang, dan dia sangat cerewet.
Berbeda dengan Evannova Ford. Dia baik,
bijak dan agak pendiam. Evan adalah anggota terakhir. Ia berkulit putih dan
mempunyai tubuh yang sangat ideal. Ia pindahan dari Amerika dan sekarang bersekolah
di Montgemary Junior High School,
dimana anggota The Gruffy Honk lainnya juga bersekolah. Jake mengajaknya menjadi anggota
genknya ketika mereka bertemu di turnamen renang di kota mereka, London, dan
Evan menjadi juara favorit. Dan yang unik dari The Gruffy Honk adalah, anggotanya ada yang kembar,
yaitu Ashton Cruz dan Matthew Cruz. Mereka sangat mirip. Tinggi mereka mirip.
Senyum, suara dan apapun yang mereka lakukan hampir selalu sama. Namun satu
yang membedakan fisik mereka, yaitu warna bola matanya. Ashton mempunyai bola
mata berwarna hazel, sedangkan bola
mata Matthew berwarna biru.
“Hah, rahasia apa?” tanya Ashton
kaget. Ia sedang menulis apa yang Mr. Paul diktekan. “Kalian tak perlu tahu
sekarang, besok juga akan tahu sendiri,” Jake menjawab sambil tersenyum penuh
rahasia. “Huh, pelit sekali kau, Jake!” gerutu Zane.
“Kalian sedang apa?!” Tiba-tiba saja Mr. Paul sudah
berada di depan bangku tempat Jake dan Evan duduk. “Tidak, Sir.” jawab Evan
dengan kepala tertunduk.
Hari Minggu pagi, The Gruffy
Honk sudah berkumpul di rumah Jake.
Mereka semua memang tinggal di kompleks perumahan yang sama. Tak hanya itu, hobby mereka pun sama, yaitu
berpetualang. Ini bukan kali pertamanya mereka berpetualang. Sudah berkali-kali
mereka menjelajah hingga ke sudut-sudut kota. Bahkan, mereka pernah mendapat
penghargaan dari gubernur karena mereka menemukan sebuah tengkorak di sebuah
gua kecil ketika mereka menjelajahinya. Konon, tengkorak itu adalah tengkorak
manusia purba yang pernah tinggal di bumi.
“Jake, apa rahasiamu? Ayolah ceritakan padaku,” bujuk
Zane. Mereka sedang menikmati cheese pancake dan susu cokelat hangat buatan
ibu Jake di ruang tamu rumah Jake. Jake dengan enak makan sambil tidur di sofa.
Cruz Brother duduk di sampingnya.
Sedangkan Zane dan Evan duduk di atas karpet lembut bermotif tutul.
“Kita
habiskan dulu kue ini, nanti mom
marah-marah. Tapi aku tidak mau ikut ya, aku sudah kenyang, haha,” kata Jake
lalu mengambil gelas susunya dan meminumnya sampai habis. Zane dan Ashton yang
kebetulan masih lapar langsung menyerbu pancake
yang tersisa.
“Kita
bagaikan gorilla kelaparan, haha,”
celutuk Zane sambil memasukkan sepotong pancake
ke mulutnya. “Memang kau mirip gorilla,
Zane!” Matthew menyindir Zane yang mempunyai tubuh kurus tinggi. “Kau bilang
apa?!” Zane memelototkan matanya. “Haha sudah-sudah. Kalian tak mau mendengar
rahasiaku?” Jake menengahi. “Tentu saja mau. By the way, terima kasih, Jake. Aku sangat
kenyang sekarang.” Ashton menyandarkan punggungnya di sofa sambil memegangi
perutnya. Jake mengangguk.
“Begini,” Jake bangun dan menarik
napas pelan.
“Hari Jum’at sore, aku memainkan bola basket di
kamarku bersama Leo, sepupuku. Saat itu posisiku berada di pojok kamarku. Leo
melempar bola itu, aku berusaha menangkapnya, tapi sayang bola itu meleset dan
jatuh tepat di keramik paling pojok.” Jake memutar bola matanya ke atas, seperti
sedang mengingat sesuatu.
“Lalu?” tanya Evan.
“Suara keramik itu sangat aneh. Aku curiga. Aku dan
Leo membongkarnya. Setelah itu, aku bisa menyimpulkan bahwa…” Jake berhenti
lagi. Kali ini ia ingin membuat teman-temannya penasaran. “Aku punya ruang
bawah tanah!” Mulut keempat temannya membulat.
“Hah?!”
“Wow! Kau yakin, Jake?” Matthew
menggeser tubuhnya mendekati Jake. “Ya. Tapi aku belum tanya pada dad tentang hal ini.”
“Jadi kita akan menyelidikinya?” tanya Ashton
ragu-ragu. “Tentu saja! Apa kalian mau?” Jake bertanya sambil tersenyum ceria.
“Of course!” jawab mereka serempak. “Ya sudah, ayo ke kamarku. Aku
sudah menyediakan semuanya, tangga, lampu senter dan beberapa lilin.” Jake pun
memandu teman mereka menuju kamarnya. “Nah,” kata Jake setelah sampai. Keramik
yang ada di kamarnya memang keramik yang berukuran besar, kira-kira 80 sentimeter
persegi, jadi sangat memungkinkan tubuh seseorang bisa melaluinya.
“Wow! Kira-kira ada apa disana?” gumam Ashton
sembari melihat-lihat sekeliling kamar Jake. “Jake, kau juga suka kartun?
Hahaha aku baru tahu,” kata Zane ketika mendapati poster kartun Garfield Cat di dinding kamar Jake. Jake hanya tertawa masam. “Mungkin
disana ada harta karunnya, Jake!” seru Zane. “Entahlah,” kata Jake. “Sebaiknya
kita selidiki bersama. Nanti kalau kita dapat harta karun, kita akan kaya
mendadak!” sambung Ashton. “Haha dasar pengkhayal!” timpal saudaranya.
“Daripada tukang tidur,” Ashton menjawab celutukan Matthew. Ketiga temannya pun
tertawa melihat tingkah Cruz Brother.
“Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo kita turun!”
Jake menurunkan tangga yang sudah ia persiapkan. “Kau
yakin akan melakukan ini?” tanya Evan tiba-tiba. Ia terlihat gelisah.
“Hahaha, kau kenapa? Tidak mau ikut?” tanya Matthew
yang sedang membantu Jake menurunkan tangga. Zane malah membongkar koleksi
kaset Jake yang tersimpan di rak kaset di bawah meja televisi. “Bukan begitu.
Perasaanku sedang tidak enak,” jawab Evan. “Sudahlah! Genk kita bukanlah genk
anak-anak bernyali kecil!” timpal Jake. Evan hanya menghembuskan napas dengan
berat.
“Jadi, siapa yang mau turun dulu?” tanya Jake.
“Aku!” Matthew menjawab dengan mantap. “Baiklah.
Bawa ini.” Matthew menerima sebuah lampu senter dari Jake. Lalu ia menuruni
anak tangga satu-persatu. “Hati-hati, brother!”
teriak Ashton dari atas.
“Yup! Dan aku sudah sampai!”
“Evan, kau mau ikut atau tidak?” tanya Zane.
“Bagaimana ya?” Evan memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. “Ya sudah aku
ikut,” jawab Evan. “Nah, itu baru Evan!” Jake menepuk pundak Evan. Evan hanya
tersenyum kecil. “Hei, kalian tidak turun?” Matthew berteriak dari bawah.
“Tidak, kami mau tidur. Kamu saja yang kesana, hahaha,” kata Zane sambil
menuruni anak tangga dan disusul teman-temannya.
“Wah, ruangan ini sangat gelap,” keluh Ashton. Ia
menyalakan lampu senternya. Memang, ruangan yang berukuran lebih kurang 4 x 4
meter itu lumayan gelap. Udaranya pengap, mungkin karena ruangan itu terletak
di bawah tanah, dan tidak ada celah untuk keluar masuk udara segar. Lantainya
terbuat dari campuran semen dan pasir yang kasar. Dindingnya pun sama. Cat
berwarna yang menempel terkelupas dimana-mana. Mereka mengedarkan cahaya lampu
senter ke seluruh ruangan itu.
“Hanya ruang kosong,” kata Matthew datar. “Ya, tidak
ada apa-apa disini.” imbuh Zane. “Tidak mungkin. Untuk apa ruangan ini dibangun
jika tidak digunakan?” sergah Jake. Ia tahu, pasti tetap ada suatu rahasia di
ruangan itu.
“Mungkin hanya tempat bersembunyi sementara.
Seperti, semacam bunker,” ujar Evan.
Ia mengamati sesuatu di lantai. Jake hanya terdiam. Ia menelusuri
pinggir-pinggir ruangan itu. Matanya memicing karena terbatasnya cahaya. Ia
menyentuh tembok itu. “Basah,” gumamnya pelan. Ia menyorotkan lampu senternya
ke sebuah objek berwarna hitam.”Lihat! Aku menemukan sebuah pintu!” pekik Jake
tiba-tiba. Semua temannya mendekat. “Wow! Pasti ada harta karun di balik pintu
ini!” seru Ashton. “Ayo buka pintu ini,” kata Jake. Ia memegang handle pintu dan menariknya. “Tolong
bantu aku, berat sekali pintu ini,” pinta Jake. Evan ikut memegang handle pintu itu, lalu menariknya
bersama Jake. Namun pintu itu tidak mau terbuka.
“Sini biar ku coba.” Ashton menawarkan diri. Mereka
bertiga menarik handle pintu itu
bersama-sama. Kreeek… kreeek. Pintu itu berderit. Mereka menariknya lebih kuat.
Pintu itu berderit lagi. “Ayo sedikit lagi!” seru Zane. Benar! Sedikit demi sedikit
pintu itu terbuka.
“Capek sekali aku. Pintu ini sangat berat ternyata.”
Ashton mengelap dahinya yang penuh dengan keringat. “Ayo kita masuk,” ajak
Matthew. Mereka pun memasuki ruang di balik pintu itu.
“Ini sebuah ruangan. Ya, lagi-lagi sebuah ruangan,”
keluh Jake. “Tunggu! Kita berada di dalam sebuah rumah, kau tahu?” kata Zane
pelan. “Ya, ini sebuah rumah. Tapi rumah siapa?” tanya Evan. “Entahlah. Lebih
baik kita cari pintu untuk keluar dari rumah ini.” ajak Matthew. Mereka
melangkah ke depan, dan memasuki sebuah ruang dengan beberapa kursi berantakan.
“Apa lagi ini?” keluh Zane. “Lihat! Ada jendela!” teriak Ashton. Ia berlari ke
arah sebuah jendela yang ada di sisi ruangan itu. “Hah, siapa mereka?!” Zane
terkejut melihat pemandangan di luar ruangan itu. “Jake, lebih baik kita
pulang!” ujar Ashton tanpa melihat orang yang diajaknya berbicara. “Ya, ayo
kita pergi dari sini!” kata Jake. Mereka bergegas lari menuju pintu yang
menghubungkan tempat itu dan ruang bawah tanah di bawah kamar Jake. Namun ketika
mereka sampai di depan pintu itu, pintu itu tertutup dan mereka tidak bisa
membuka pintu itu karena tidak ada handlenya.
“Ya Tuhan! Apa yang terjadi?”
“Aku takut, Jake,” kata Zane.
“Kita dimana?”
“Aku tidak tahu,” jawab Jake lemas. Mereka terlihat bingung.
Bagaimana tidak? Yang ada di luar ruangan tadi adalah sebuah lingkungan, atau
mungkin perkampungan kumuh dan berantakan.
“Apa kau tidak mau melihat tempat tadi terlebih
dahulu, Jake?” tanya Evan. Jake bingung. “Ya, sebenarnya aku mau, tapi apa kalian
mau?” Jake mengalihkan pandangannya kepada Zane, Matthew dan Ashton. “Selama
kita masih bersama, aku mau,” jawab Matthew sambil tersenyum. Zane dan Ashton
mengangguk. “Ya sudah, ayo kembali kesana,” ujar Jake. Ia berjalan paling
depan. Mereka kembali menuju ruangan berjendela.
“Yakin?”
“Ya,”
Mereka sudah berada di ruangan berjendela tadi. Lalu
Jake membuka pintu dengan hati-hati. Pintu itu cukup mudah terbuka, tak seperti
pintu yang berada di ruang bawah tanah di bawah kamar Jake. “Ayo!” seru Jake
pelan.
Mereka semua keluar. Udara panas menyambut mereka.
Matahari tepat berada di atas kepala dengan cahayanya yang berwarna jingga.
Sungguh mengerikan. Tanah di tempat itu retak dan tinggi rendahnya tidak rata.
Debu bebas berkeliaran. Tak ada satupun pohon yang tumbuh. Dan disana banyak
sekali orang-orang di depan mereka. Mereka sangat kurus, kulit mereka
pecah-pecah dan kusam. Mereka sedang duduk di depan rumah mereka, sepertinya.
Rumah mereka sangat jelek. Mereka menatap kelima remaja itu dengan tatapan nanar.
Mereka terdiam. Tak ada satu pun yang tersenyum. Dan, banyak sampah di sekitar
mereka. Sungguh perkampungan yang tidak seorang pun mau menempatinya.
“Matt, siapa mereka?” Ashton menyikut rusuk
saudaranya. “Entah, aku tidak tahu,” jawab Matthew. “Apa kita bertanya saja
pada mereka?” usul Jake. “Tidak, aku tidak kuat dengan aroma sampah itu,” keluh
Evan. “Benar, Jake. Aku seperti ingin muntah,” sambung Zane. “Tapi apa kalian
lebih tahan berada di bawah sinar matahari yang panas seperti ini?” tanya Jake.
“Tidak juga. Tapi…” Belum sempat Ashton melanjutkan kata-katanya, Jake
memotongnya, “Tutup hidung kita dengan baju yang kita pakai. Itu akan lebih
baik,” kata Jake bijak. Mereka pun menurut. Lalu mereka berjalan dan
menghampiri seorang laki-laki yang sudah tua.
Ia terduduk di sebuah batu di depan sebuah rumah yang sangat kotor.
“Permisi. Apakah saya boleh bertanya?” tanya Jake
pada orang tua itu. Orang tua itu kaget, matanya sedikit membesar, lalu ia menjawab.
“Siapa Anda? Anda datang dari mana?”
Jake dan teman-temannya bingung dengan pertanyaan
orang tua itu. Orang tua itu menatap mereka berlima dengan lekat, seolah-olah
ia melihat sesuatu yang menakjubkan yang belum pernah dilihatnya.
“Sa… saya Jake. Dan mereka teman-teman saya,” Jake
melepas baju yang menutupi hidungnya dan tersenyum kepada orang tua itu. Namun,
karena aroma sampah yang sangat menyengat, ia menutup hidungnya kembali. Ia
heran, bagaimana mereka tahan dengan sampah ini? “Apakah kalian manusia?” tanya
orang tua itu lagi. Semua anggota The
Gruffy Honk lebih tercengang mendengar pertanyaan itu. Mereka hanya
mengangguk. Mereka berdiri terpaku di depan orang tua itu.
“Namaku Gill. Aku pikir kalian heran dan bingung dengan
keadaan dan tempat ini.” kata orang tua itu yang ternyata bernama Gill. Mereka
mengangguk lagi. “Ini semua ulah manusia. Manusia yang hanya memikirkan diri
mereka sendiri. Manusia yang tak bertanggung jawab. Manusia yang tidak mentaati
aturan.” Tuan Gill melihat ke atas. Seperti sedang mengingat sesuatu yang
terlupakan.
“Ya, manusia abad dua puluh sangat kejam. Mereka
menebang pohon-pohon. Membakar hutan, membuang sampah sembarangan. Memburu
binatang langka. Merokok. Mereka hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri.
Bahkan saat alam marah pun mereka tidak sadar. Dan saat itu usiaku baru tujuh
tahun. Aku belum mengerti akan dampak yang terjadi atas semua tindakan itu.
Sekarang manusia generasikulah yang menerimanya.” Tuan Gill berhenti. Ia
terbatuk. Jake dan teman-temannya bingung. Mereka sama sekali tidak mengerti
maksud ucapan Tuan Gill.
“Tahun 2012 adalah tahun dimana semua kengerian
berawal. Banjir, gempa bumi dan kebakaran hutan terjadi. Suhu bumi naik. Aku
baru duduk di kelas tiga di sebuah secondary school. Dan sekarang… usiaku sudah
tujuh puluh lima tahun. Tahun 2077 ini sangat menyedihkan. Banyak sekali
penduduk bumi yang meninggal dalam satu hari. Jumlah manusia menurun drastis.
Air sangat sulit didapatkan. Hujan sudah lama tidak turun. Kalau hujan turun
pun, tidak ada pohon yang dapat menyimpan air hujan yang merembes ke dalam
tanah.” ujarnya panjang lebar. Jake dan teman-temannya semakin bingung. Mereka
saling pandang tak mengerti.
“Apa maksud tahun 2077?” bisik Zane kepada Evan. Ia
melihat sekelilingnya. Ternyata orang-orang yang di belakangnya
memperhatikannya dan teman-temannya. “Aku tidak mengerti,” jawabnya.
“Kita hanya makan seadanya. Kami biasa makan sekali
selama tiga atau empat hari. Jika tidak ada makanan, kami hanya minum air.
Hanya minum air sekali untuk bernapas berhari-hari.” Tuan Gill menjelaskan
hidupnya panjang lebar, lalu terbatuk-batuk kecil.
“Ya sudah. Terima kasih tuan, kami ingin melanjutkan
perjalanan kami, permisi.” Jake dan keempat temannya meninggalkan Tuan Gill.
“Kau tahu apa maksudnya, Zane?” tanya Jake kepada
Zane setelah mereka berjalan agak jauh dari orang tua yang mereka tanyai tadi.
“Tidak. Aku bahkan tak mengerti sama sekali. Bencana, tahun 2077, makan, minum.
Entah, aku tak mengerti.” Mereka berjalan beriringan. Di sepanjang jalan yang
mereka lalui, rumah-rumah kotor berjajar tak beraturan dikelilingi udara yang
tidak sehat.
“Lihat, bukankah itu sebuah gua?” seru Matthew
tiba-tiba. Sudah tidak ada tempat tinggal di sekitar jalan dan gua yang mereka
temukan. “Aku suka gua! Ayo kita lihat!” ajak Evan. Mereka mendekati gua yang
tidak terlalu besar itu. Gua itu dikelilingi oleh bongkahan batu besar. Keadaan
di sekitarnya seperti keadaan di sebuah gurun pasir. Tandus, kering dan tak ada
tumbuhan satupun.
Mereka memasuki gua. Kosong dan agak gelap. Gua itu
hanya penuh dengan batu-batu berukuran sedang dan rerumputan yang tertanam di
pinggir-pinggirnya. “Ih, kotor sekali!” kata Zane. Mereka menyusuri gua itu. “Ada
nyamuk, aneh,” gumam Evan. Ia mengamati setiap inchi dari gua itu. “Sepertinya
usia gua ini sudah tua,” katanya memperkirakan. Teman-temannya sudah berada
agak jauh di depannya. Ia tersadar dan berlari kecil menyusul mereka.
Semakin ke dalam, semakin gelap dan pengap. “Matt, kau
bawa lampu senter tadi?” Jake bertanya. “Ah, tidak. Bahkan aku lupa dimana aku
menaruhnya,” Matthew sedikit bingung dengan jawabannya sendiri.
“Hei, bukankah ini ruang bawah tanah yang ada di
bawah kamar Jake?” seru Matthew tiba-tiba. “Ah, ya! Benar! Ini ruang bawah
tanah itu!” Jake meraba-raba dindingnya. “Lihat, lampu senternya ada disini.”
Matthew menemukan lampu senter dan lilin di bawah tangga. “Bukankah kita
membawanya sampai ruangan yang ada di balik pintu ini?” tanya Evan. “Ya, kau
benar. Ini sungguh aneh.” kata Jake. “Lebih baik kita naik sekarang, aku sangat
capek dan… lapar,” kata Zane sambil meringis. Mereka pun naik satu-persatu.
“Capek sekali aku,” kata Ashton setelah berada di dalam kamar Jake. “Ya sudah,
ayo ke dapur. Aku punya oatmeal.” Jake
mengajak teman-temannya ke dapur.
“Hai, mom,”
sapa Jake kepada ibunya yang sedang mencuci gelas dan piring di dapur. Ibu Jake
membalikkan badannya. “Jake!” pekik ibu Jake ketika melihat Jake dan
teman-teman segenknya berada di depannya. Tiba-tiba ia menghambur ke tubuh Jake
dan memeluknya. “Mom, kenapa mom menangis? Apa yang terjadi?” tanya
Jake bingung. “Jake, kamu kemana saja? Mom
dan dad bingung mencarimu dan
teman-temanmu. Kami semua bingung, Jake. Kami kira kalian di culik karena sudah
tiga hari tidak pulang.” Ibu Jake terisak. “Maksud mom?” Jake bingung. Keempat temannya juga bingung.
“Kau pergi kemana saja bersama genkmu?”
“Kami… kami hanya menyelidiki ruang bawah tanah yang
ada di bawah kamarku, mom. Dan itu
hanya beberapa jam, tidak sampai tiga hari. Bahkan setengah hari pun tidak,
bukankah begitu, teman-teman?” ujar Jake. Teman-temannya mengangguk. “Tidak.
Kalian sudah pergi selama tiga hari. Coba cek handphone kalian. Pasti sekarang sudah tanggal 21 Oktober, dan
kalian… pergi tanggal 18 Oktober, jam sepuluh pagi.” jawab ibu Jake yang masih
terisak.
“Tidak mungkin…” gumam Jake sembari mengingat-ingat
kejadian yang baru saja dialaminya bersama teman-temannya.
“Sepertinya mom
kamu benar, Jake. Sekarang tanggal 21 Oktober. Lalu apa yang sebenarnya
terjadi?” tanya Evan dengan bibir bergetar.
“Pintu waktu,” gumam Jake pelan.

0 comment:
Post a Comment