Monday, June 2, 2014

The Gruffy Honk: Pintu Waktu




            “Hei, aku punya rahasia baru! Datanglah ke rumahku jam sembilan pagi, dan kita akan berpetualang seharian!” Jake memberi pengumuman kepada teman segenknya, The Gruffy Honk.

Jake Eldridge Ackley, atau Jake Ackley adalah sang ketua. Bertubuh tinggi dan tegap. Sorot matanya tajam dengan bola mata berwarna biru cerah, keturunan ayahnya. Ia seorang remaja empat belas tahun yang sangat pemberani dan tangguh, dan salah satu cowok popular di sekolahnya. Zane Matrix adalah anggota The Gruffy Honk yang paling muda. Berambut pirang, dan dia sangat cerewet. Berbeda dengan  Evannova Ford. Dia baik, bijak dan agak pendiam. Evan adalah anggota terakhir. Ia berkulit putih dan mempunyai tubuh yang sangat ideal. Ia pindahan dari Amerika dan sekarang bersekolah di Montgemary Junior High School, dimana anggota The Gruffy Honk lainnya juga bersekolah. Jake mengajaknya menjadi anggota genknya ketika mereka bertemu di turnamen renang di kota mereka, London, dan Evan menjadi juara favorit. Dan yang unik dari The Gruffy Honk adalah, anggotanya ada yang kembar, yaitu Ashton Cruz dan Matthew Cruz. Mereka sangat mirip. Tinggi mereka mirip. Senyum, suara dan apapun yang mereka lakukan hampir selalu sama. Namun satu yang membedakan fisik mereka, yaitu warna bola matanya. Ashton mempunyai bola mata berwarna hazel, sedangkan bola mata Matthew berwarna biru.

            “Hah, rahasia apa?” tanya Ashton kaget. Ia sedang menulis apa yang Mr. Paul diktekan. “Kalian tak perlu tahu sekarang, besok juga akan tahu sendiri,” Jake menjawab sambil tersenyum penuh rahasia. “Huh, pelit sekali kau, Jake!” gerutu Zane.

“Kalian sedang apa?!” Tiba-tiba saja Mr. Paul sudah berada di depan bangku tempat Jake dan Evan duduk. “Tidak, Sir.” jawab Evan dengan kepala tertunduk.

            Hari Minggu pagi, The Gruffy Honk sudah berkumpul di rumah Jake. Mereka semua memang tinggal di kompleks perumahan yang sama. Tak hanya itu, hobby mereka pun sama, yaitu berpetualang. Ini bukan kali pertamanya mereka berpetualang. Sudah berkali-kali mereka menjelajah hingga ke sudut-sudut kota. Bahkan, mereka pernah mendapat penghargaan dari gubernur karena mereka menemukan sebuah tengkorak di sebuah gua kecil ketika mereka menjelajahinya. Konon, tengkorak itu adalah tengkorak manusia purba yang pernah tinggal di bumi.

            “Jake, apa rahasiamu? Ayolah ceritakan padaku,” bujuk Zane. Mereka sedang menikmati cheese pancake dan susu cokelat hangat buatan ibu Jake di ruang tamu rumah Jake. Jake dengan enak makan sambil tidur di sofa. Cruz Brother duduk di sampingnya. Sedangkan Zane dan Evan duduk di atas karpet lembut bermotif tutul.

“Kita habiskan dulu kue ini, nanti mom marah-marah. Tapi aku tidak mau ikut ya, aku sudah kenyang, haha,” kata Jake lalu mengambil gelas susunya dan meminumnya sampai habis. Zane dan Ashton yang kebetulan masih lapar langsung menyerbu pancake yang tersisa.

“Kita bagaikan gorilla kelaparan, haha,” celutuk Zane sambil memasukkan sepotong pancake ke mulutnya. “Memang kau mirip gorilla, Zane!” Matthew menyindir Zane yang mempunyai tubuh kurus tinggi. “Kau bilang apa?!” Zane memelototkan matanya. “Haha sudah-sudah. Kalian tak mau mendengar rahasiaku?” Jake menengahi. “Tentu saja mau. By the way, terima kasih, Jake. Aku sangat kenyang sekarang.” Ashton menyandarkan punggungnya di sofa sambil memegangi perutnya. Jake mengangguk.
            “Begini,” Jake bangun dan menarik napas pelan.

“Hari Jum’at sore, aku memainkan bola basket di kamarku bersama Leo, sepupuku. Saat itu posisiku berada di pojok kamarku. Leo melempar bola itu, aku berusaha menangkapnya, tapi sayang bola itu meleset dan jatuh tepat di keramik paling pojok.” Jake memutar bola matanya ke atas, seperti sedang mengingat sesuatu.

“Lalu?” tanya Evan.

“Suara keramik itu sangat aneh. Aku curiga. Aku dan Leo membongkarnya. Setelah itu, aku bisa menyimpulkan bahwa…” Jake berhenti lagi. Kali ini ia ingin membuat teman-temannya penasaran. “Aku punya ruang bawah tanah!” Mulut keempat temannya membulat.

            “Hah?!”

            “Wow! Kau yakin, Jake?” Matthew menggeser tubuhnya mendekati Jake. “Ya. Tapi aku belum tanya pada dad tentang hal ini.”

“Jadi kita akan menyelidikinya?” tanya Ashton ragu-ragu. “Tentu saja! Apa kalian mau?” Jake bertanya sambil tersenyum ceria. “Of course!” jawab mereka serempak. “Ya sudah, ayo ke kamarku. Aku sudah menyediakan semuanya, tangga, lampu senter dan beberapa lilin.” Jake pun memandu teman mereka menuju kamarnya. “Nah,” kata Jake setelah sampai. Keramik yang ada di kamarnya memang keramik yang berukuran besar, kira-kira 80 sentimeter persegi, jadi sangat memungkinkan tubuh seseorang bisa melaluinya.

“Wow! Kira-kira ada apa disana?” gumam Ashton sembari melihat-lihat sekeliling kamar Jake. “Jake, kau juga suka kartun? Hahaha aku baru tahu,” kata Zane ketika mendapati poster kartun Garfield Cat di dinding kamar Jake. Jake hanya tertawa masam. “Mungkin disana ada harta karunnya, Jake!” seru Zane. “Entahlah,” kata Jake. “Sebaiknya kita selidiki bersama. Nanti kalau kita dapat harta karun, kita akan kaya mendadak!” sambung Ashton. “Haha dasar pengkhayal!” timpal saudaranya. “Daripada tukang tidur,” Ashton menjawab celutukan Matthew. Ketiga temannya pun tertawa melihat tingkah Cruz Brother. “Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo kita turun!”

Jake menurunkan tangga yang sudah ia persiapkan. “Kau yakin akan melakukan ini?” tanya Evan tiba-tiba. Ia terlihat gelisah.

“Hahaha, kau kenapa? Tidak mau ikut?” tanya Matthew yang sedang membantu Jake menurunkan tangga. Zane malah membongkar koleksi kaset Jake yang tersimpan di rak kaset di bawah meja televisi. “Bukan begitu. Perasaanku sedang tidak enak,” jawab Evan. “Sudahlah! Genk kita bukanlah genk anak-anak bernyali kecil!” timpal Jake. Evan hanya menghembuskan napas dengan berat.

“Jadi, siapa yang mau turun dulu?” tanya Jake.

“Aku!” Matthew menjawab dengan mantap. “Baiklah. Bawa ini.” Matthew menerima sebuah lampu senter dari Jake. Lalu ia menuruni anak tangga satu-persatu. “Hati-hati, brother!” teriak Ashton dari atas.

“Yup! Dan aku sudah sampai!”

“Evan, kau mau ikut atau tidak?” tanya Zane. “Bagaimana ya?” Evan memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. “Ya sudah aku ikut,” jawab Evan. “Nah, itu baru Evan!” Jake menepuk pundak Evan. Evan hanya tersenyum kecil. “Hei, kalian tidak turun?” Matthew berteriak dari bawah. “Tidak, kami mau tidur. Kamu saja yang kesana, hahaha,” kata Zane sambil menuruni anak tangga dan disusul teman-temannya.

“Wah, ruangan ini sangat gelap,” keluh Ashton. Ia menyalakan lampu senternya. Memang, ruangan yang berukuran lebih kurang 4 x 4 meter itu lumayan gelap. Udaranya pengap, mungkin karena ruangan itu terletak di bawah tanah, dan tidak ada celah untuk keluar masuk udara segar. Lantainya terbuat dari campuran semen dan pasir yang kasar. Dindingnya pun sama. Cat berwarna yang menempel terkelupas dimana-mana. Mereka mengedarkan cahaya lampu senter ke seluruh ruangan itu.

“Hanya ruang kosong,” kata Matthew datar. “Ya, tidak ada apa-apa disini.” imbuh Zane. “Tidak mungkin. Untuk apa ruangan ini dibangun jika tidak digunakan?” sergah Jake. Ia tahu, pasti tetap ada suatu rahasia di ruangan itu.

“Mungkin hanya tempat bersembunyi sementara. Seperti, semacam bunker,” ujar Evan. Ia mengamati sesuatu di lantai. Jake hanya terdiam. Ia menelusuri pinggir-pinggir ruangan itu. Matanya memicing karena terbatasnya cahaya. Ia menyentuh tembok itu. “Basah,” gumamnya pelan. Ia menyorotkan lampu senternya ke sebuah objek berwarna hitam.”Lihat! Aku menemukan sebuah pintu!” pekik Jake tiba-tiba. Semua temannya mendekat. “Wow! Pasti ada harta karun di balik pintu ini!” seru Ashton. “Ayo buka pintu ini,” kata Jake. Ia memegang handle pintu dan menariknya. “Tolong bantu aku, berat sekali pintu ini,” pinta Jake. Evan ikut memegang handle pintu itu, lalu menariknya bersama Jake. Namun pintu itu tidak mau terbuka.

“Sini biar ku coba.” Ashton menawarkan diri. Mereka bertiga menarik handle pintu itu bersama-sama. Kreeek… kreeek. Pintu itu berderit. Mereka menariknya lebih kuat. Pintu itu berderit lagi. “Ayo sedikit lagi!” seru Zane. Benar! Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka.

“Capek sekali aku. Pintu ini sangat berat ternyata.” Ashton mengelap dahinya yang penuh dengan keringat. “Ayo kita masuk,” ajak Matthew. Mereka pun memasuki ruang di balik pintu itu.

“Ini sebuah ruangan. Ya, lagi-lagi sebuah ruangan,” keluh Jake. “Tunggu! Kita berada di dalam sebuah rumah, kau tahu?” kata Zane pelan. “Ya, ini sebuah rumah. Tapi rumah siapa?” tanya Evan. “Entahlah. Lebih baik kita cari pintu untuk keluar dari rumah ini.” ajak Matthew. Mereka melangkah ke depan, dan memasuki sebuah ruang dengan beberapa kursi berantakan. “Apa lagi ini?” keluh Zane. “Lihat! Ada jendela!” teriak Ashton. Ia berlari ke arah sebuah jendela yang ada di sisi ruangan itu. “Hah, siapa mereka?!” Zane terkejut melihat pemandangan di luar ruangan itu. “Jake, lebih baik kita pulang!” ujar Ashton tanpa melihat orang yang diajaknya berbicara. “Ya, ayo kita pergi dari sini!” kata Jake. Mereka bergegas lari menuju pintu yang menghubungkan tempat itu dan ruang bawah tanah di bawah kamar Jake. Namun ketika mereka sampai di depan pintu itu, pintu itu tertutup dan mereka tidak bisa membuka pintu itu karena tidak ada handlenya.

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi?”

“Aku takut, Jake,” kata Zane.

“Kita dimana?”

“Aku tidak tahu,” jawab Jake lemas. Mereka terlihat bingung. Bagaimana tidak? Yang ada di luar ruangan tadi adalah sebuah lingkungan, atau mungkin perkampungan kumuh dan berantakan.

“Apa kau tidak mau melihat tempat tadi terlebih dahulu, Jake?” tanya Evan. Jake bingung. “Ya, sebenarnya aku mau, tapi apa kalian mau?” Jake mengalihkan pandangannya kepada Zane, Matthew dan Ashton. “Selama kita masih bersama, aku mau,” jawab Matthew sambil tersenyum. Zane dan Ashton mengangguk. “Ya sudah, ayo kembali kesana,” ujar Jake. Ia berjalan paling depan. Mereka kembali menuju ruangan berjendela.

“Yakin?”

“Ya,” 

Mereka sudah berada di ruangan berjendela tadi. Lalu Jake membuka pintu dengan hati-hati. Pintu itu cukup mudah terbuka, tak seperti pintu yang berada di ruang bawah tanah di bawah kamar Jake. “Ayo!” seru Jake pelan.

Mereka semua keluar. Udara panas menyambut mereka. Matahari tepat berada di atas kepala dengan cahayanya yang berwarna jingga. Sungguh mengerikan. Tanah di tempat itu retak dan tinggi rendahnya tidak rata. Debu bebas berkeliaran. Tak ada satupun pohon yang tumbuh. Dan disana banyak sekali orang-orang di depan mereka. Mereka sangat kurus, kulit mereka pecah-pecah dan kusam. Mereka sedang duduk di depan rumah mereka, sepertinya. Rumah mereka sangat jelek. Mereka menatap kelima remaja itu dengan tatapan nanar. Mereka terdiam. Tak ada satu pun yang tersenyum. Dan, banyak sampah di sekitar mereka. Sungguh perkampungan yang tidak seorang pun mau menempatinya.

“Matt, siapa mereka?” Ashton menyikut rusuk saudaranya. “Entah, aku tidak tahu,” jawab Matthew. “Apa kita bertanya saja pada mereka?” usul Jake. “Tidak, aku tidak kuat dengan aroma sampah itu,” keluh Evan. “Benar, Jake. Aku seperti ingin muntah,” sambung Zane. “Tapi apa kalian lebih tahan berada di bawah sinar matahari yang panas seperti ini?” tanya Jake. “Tidak juga. Tapi…” Belum sempat Ashton melanjutkan kata-katanya, Jake memotongnya, “Tutup hidung kita dengan baju yang kita pakai. Itu akan lebih baik,” kata Jake bijak. Mereka pun menurut. Lalu mereka berjalan dan menghampiri seorang laki-laki yang sudah tua.  Ia terduduk di sebuah batu di depan sebuah rumah yang sangat kotor.

“Permisi. Apakah saya boleh bertanya?” tanya Jake pada orang tua itu. Orang tua itu kaget, matanya sedikit membesar, lalu ia menjawab. “Siapa Anda? Anda datang dari mana?”

Jake dan teman-temannya bingung dengan pertanyaan orang tua itu. Orang tua itu menatap mereka berlima dengan lekat, seolah-olah ia melihat sesuatu yang menakjubkan yang belum pernah dilihatnya.

“Sa… saya Jake. Dan mereka teman-teman saya,” Jake melepas baju yang menutupi hidungnya dan tersenyum kepada orang tua itu. Namun, karena aroma sampah yang sangat menyengat, ia menutup hidungnya kembali. Ia heran, bagaimana mereka tahan dengan sampah ini? “Apakah kalian manusia?” tanya orang tua itu lagi. Semua anggota The Gruffy Honk lebih tercengang mendengar pertanyaan itu. Mereka hanya mengangguk. Mereka berdiri terpaku di depan orang tua itu.

“Namaku Gill. Aku pikir kalian heran dan bingung dengan keadaan dan tempat ini.” kata orang tua itu yang ternyata bernama Gill. Mereka mengangguk lagi. “Ini semua ulah manusia. Manusia yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Manusia yang tak bertanggung jawab. Manusia yang tidak mentaati aturan.” Tuan Gill melihat ke atas. Seperti sedang mengingat sesuatu yang terlupakan.

“Ya, manusia abad dua puluh sangat kejam. Mereka menebang pohon-pohon. Membakar hutan, membuang sampah sembarangan. Memburu binatang langka. Merokok. Mereka hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri. Bahkan saat alam marah pun mereka tidak sadar. Dan saat itu usiaku baru tujuh tahun. Aku belum mengerti akan dampak yang terjadi atas semua tindakan itu. Sekarang manusia generasikulah yang menerimanya.” Tuan Gill berhenti. Ia terbatuk. Jake dan teman-temannya bingung. Mereka sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Tuan Gill.

“Tahun 2012 adalah tahun dimana semua kengerian berawal. Banjir, gempa bumi dan kebakaran hutan terjadi. Suhu bumi naik. Aku baru duduk di kelas tiga di sebuah secondary school. Dan sekarang… usiaku sudah tujuh puluh lima tahun. Tahun 2077 ini sangat menyedihkan. Banyak sekali penduduk bumi yang meninggal dalam satu hari. Jumlah manusia menurun drastis. Air sangat sulit didapatkan. Hujan sudah lama tidak turun. Kalau hujan turun pun, tidak ada pohon yang dapat menyimpan air hujan yang merembes ke dalam tanah.” ujarnya panjang lebar. Jake dan teman-temannya semakin bingung. Mereka saling pandang tak mengerti.

“Apa maksud tahun 2077?” bisik Zane kepada Evan. Ia melihat sekelilingnya. Ternyata orang-orang yang di belakangnya memperhatikannya dan teman-temannya. “Aku tidak mengerti,” jawabnya. 

“Kita hanya makan seadanya. Kami biasa makan sekali selama tiga atau empat hari. Jika tidak ada makanan, kami hanya minum air. Hanya minum air sekali untuk bernapas berhari-hari.” Tuan Gill menjelaskan hidupnya panjang lebar, lalu terbatuk-batuk kecil.

“Ya sudah. Terima kasih tuan, kami ingin melanjutkan perjalanan kami, permisi.” Jake dan keempat temannya meninggalkan Tuan Gill.

“Kau tahu apa maksudnya, Zane?” tanya Jake kepada Zane setelah mereka berjalan agak jauh dari orang tua yang mereka tanyai tadi. “Tidak. Aku bahkan tak mengerti sama sekali. Bencana, tahun 2077, makan, minum. Entah, aku tak mengerti.” Mereka berjalan beriringan. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, rumah-rumah kotor berjajar tak beraturan dikelilingi udara yang tidak sehat. 

“Lihat, bukankah itu sebuah gua?” seru Matthew tiba-tiba. Sudah tidak ada tempat tinggal di sekitar jalan dan gua yang mereka temukan. “Aku suka gua! Ayo kita lihat!” ajak Evan. Mereka mendekati gua yang tidak terlalu besar itu. Gua itu dikelilingi oleh bongkahan batu besar. Keadaan di sekitarnya seperti keadaan di sebuah gurun pasir. Tandus, kering dan tak ada tumbuhan satupun.

Mereka memasuki gua. Kosong dan agak gelap. Gua itu hanya penuh dengan batu-batu berukuran sedang dan rerumputan yang tertanam di pinggir-pinggirnya. “Ih, kotor sekali!” kata Zane. Mereka menyusuri gua itu. “Ada nyamuk, aneh,” gumam Evan. Ia mengamati setiap inchi dari gua itu. “Sepertinya usia gua ini sudah tua,” katanya memperkirakan. Teman-temannya sudah berada agak jauh di depannya. Ia tersadar dan berlari kecil menyusul mereka.

Semakin ke dalam, semakin gelap dan pengap. “Matt, kau bawa lampu senter tadi?” Jake bertanya. “Ah, tidak. Bahkan aku lupa dimana aku menaruhnya,” Matthew sedikit bingung dengan jawabannya sendiri.

“Hei, bukankah ini ruang bawah tanah yang ada di bawah kamar Jake?” seru Matthew tiba-tiba. “Ah, ya! Benar! Ini ruang bawah tanah itu!” Jake meraba-raba dindingnya. “Lihat, lampu senternya ada disini.” Matthew menemukan lampu senter dan lilin di bawah tangga. “Bukankah kita membawanya sampai ruangan yang ada di balik pintu ini?” tanya Evan. “Ya, kau benar. Ini sungguh aneh.” kata Jake. “Lebih baik kita naik sekarang, aku sangat capek dan… lapar,” kata Zane sambil meringis. Mereka pun naik satu-persatu. “Capek sekali aku,” kata Ashton setelah berada di dalam kamar Jake. “Ya sudah, ayo ke dapur. Aku punya oatmeal.” Jake mengajak teman-temannya ke dapur.

“Hai, mom,” sapa Jake kepada ibunya yang sedang mencuci gelas dan piring di dapur. Ibu Jake membalikkan badannya. “Jake!” pekik ibu Jake ketika melihat Jake dan teman-teman segenknya berada di depannya. Tiba-tiba ia menghambur ke tubuh Jake dan memeluknya. “Mom, kenapa mom menangis? Apa yang terjadi?” tanya Jake bingung. “Jake, kamu kemana saja? Mom dan dad bingung mencarimu dan teman-temanmu. Kami semua bingung, Jake. Kami kira kalian di culik karena sudah tiga hari tidak pulang.” Ibu Jake terisak. “Maksud mom?” Jake bingung. Keempat temannya juga bingung.

“Kau pergi kemana saja bersama genkmu?”

“Kami… kami hanya menyelidiki ruang bawah tanah yang ada di bawah kamarku, mom. Dan itu hanya beberapa jam, tidak sampai tiga hari. Bahkan setengah hari pun tidak, bukankah begitu, teman-teman?” ujar Jake. Teman-temannya mengangguk. “Tidak. Kalian sudah pergi selama tiga hari. Coba cek handphone kalian. Pasti sekarang sudah tanggal 21 Oktober, dan kalian… pergi tanggal 18 Oktober, jam sepuluh pagi.” jawab ibu Jake yang masih terisak.

“Tidak mungkin…” gumam Jake sembari mengingat-ingat kejadian yang baru saja dialaminya bersama teman-temannya. 

“Sepertinya mom kamu benar, Jake. Sekarang tanggal 21 Oktober. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Evan dengan bibir bergetar.

“Pintu waktu,” gumam Jake pelan.

0 comment:

Post a Comment